Siap Siap,2023 Pabrik Pupuk Iskandar Muda Bakal Mati

Aradio – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan, saat ini nasib PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Aceh Utara, Provinsi Aceh sedang berada di ujung tanduk. Hal itu di karenakan terkait dengan pasokan gas sebagai bahan bakar utama mesin produksi pupuk.

“Mengenai Aceh, yang pasti sekarang kita didorong oleh pemerintah untuk memastikan PIM ini tetap produksi dan kami juga masih kesulitan gas terus terang. Ini Januari bisa mati lagi kalau gasnya belum dapat lagi,” ujar Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2022).

Menurut dia, permasalahan yang sedang dihadapi PIM menjadi fokus Kementerian BUMN.

Beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima menyoroti ketersediaan gas sebagai bahan bakar utama mesin produksi pupuk yang digunakan oleh mesin pembuat pupuk di PIM dalam upaya meningkatkan pengembangan pabrik pupuk di Aceh. Menurut dia, harus dicarikan solusi bersama agar produksi pupuk dapat meningkat dan memenuhi kebutuhan pupuk nasional.

“Ketersediaan mengenai gas yang sampai hari ini belum terselesaikan, formulasi seperti apa supaya PIM ini bisa berjalan normal kembali, karena di PIM ini sebenarnya mesinnya itu mesin yang lebih modern daripada pabrik pupuk yang lain. Hanya memang ketersediaan gas ini menjadi problem dari dulu sampai sekarang. Apalagi harga gas yang sudah mencapai 50 dolar AS, sedangkan pemerintah mematok harga 6 dolar AS. Saya kira itu menjadi sesuatu yang yang harus diselesaikan secara bersama-sama,” kata Aria di Banda Aceh, Selasa (9/8/2022).

Dalam pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI dengan mitra kerja terkait, Aria menilai hal ini bukan tidak mendasar, mengingat saat ini kemampuan pabrik pupuk nasional, hanya mencukup 14 juta ton dari kebutuhan nasional 23 juta ton. Sementara subsidi pupuk Indonesia sebesar 9 juta ton, sehingga diharapkan dengan adanya penambahan produksi pupuk dari PIM, Aria yakin target kebutuhan nasional terhadap pupuk, baik subsidi maupun non-subsidi, semuanya terpenuhi dan tercukupi.

“Apalagi kita sudah mencanangkan bahwa situasi sekarang tidak bisa tidak, tanaman pangan ini menjadi skala prioritas dalam situasi pasca pandemi Covid-19 ini, situasi interdependensi antar negara mengenai pangan tidak seperti yang kita harapkan. Pangan jadi komoditas pertahanan di masing-masing negara, sistem distribusi dan transportasi dan sistem B to B soal pangan sekarang lebih dikendalikan oleh government. Maka tidak mau tidak, kita harus benar-benar mampu mencukupi pangan nasional dengan produksi pangan kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip laman resmi DPR.

Dengan kebutuhan pangan nasional ini, maka menurut politisi PDI-Perjuangan tersebut, saat inilah letak keniscayaan agar ketersediaan pupuk nasional harus menjadi perhatian secara khusus. Terutama bagaimana memaksimalkan pabrik-pabrik pupuk yang ada saat ini yang memang dalam kendala, baik itu di teknologi produksinya yang sudah banyak yang usang, dan kemudian untuk kesediaan bahan bakunya, yaitu gas. (cnbcindonesia/aradio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *